BELANJA TIDAK KENAL KRISIS

Apakah kamu termasuk orang yang heran dengan menjamurnya mal di kota-kota besar?, apa kamu juga tak habis pikir, kenapa mal-mal yang buanyak itu tak pernah sepi pembeli. Survey intisari membuktikan ,“krisis tak pernah mengetuk pintu mal-mal, café-café tempat hangout, dan tempat nongkrong para pehobi di Indonesia. Aktivitas menghambur-hamburkan uang untuk urusan yang tak penting-penting amat tetap saja lancar jaya. Ya, kelemahan kita tuh (khususnya masyarakat Indonesia yang tinggal di perkotaan) yaitu dalam hal menentukan prioritas dan proporsi pengeluaran yang seimbang. Kita tak cukup pintar menentukan mana “keinginan” dan mana “kebutuhan”. Repotnya, komposisi doku yang dikeluarkan untuk keinginan dan kebutuhan itu sering jomplang. Jadinya, hidup mengalir tanpa perencanaan, hanya menuruti nafsu sesaat. Yang penting hari ini, besok urusan nanti! Rokok lebih penting dari kesehatan? Hasil Survey Intisari dengan responden berusia rata-rata 31 tahun yang kebanyakan karyawan swasta, dengan komposisi pria dan wanita hampir sama, mayoritas sudah menikah, dan tergolong strata ekonomi menengah/ke atas. Hasilnya, pengeluaran untuk aktivitas berbau hobi, hangout, merokok, gonta-ganti gadget menghabiskan porsi besar dalam pengeluaran per bulan. Pria yang kebanyakan suka merokok, olahraga, modifikasi kendaraan, sementara wanita membaca dan berwisata, rata-rata mengalokasikan Rp.422.360,- angka ini sama dengan biaya pendidikan anak dan setara dengan setengah dari biaya untuk makan sehari-hari. Responden yang senang hangout dalam sebulan menghabiskan Rp. 257.318,- lima kali lebih besar daripada biaya untuk uang saku anak, atau tiga kali lebih besar dari ongkos untuk susu kesehatan. Untuk responden perokok, sebulan membakar duit Rp. 245.886,-rata-rata sebungkus rokok per hari, ironisnya jumlah itu tiga kali lebih besar dari anggaran untuk menjaga kesehatan atau sepertiga dari pengeluaran untuk makan perbulan. Ck..ck..ck. Yang punya hobi ganti-ganti gadget, mengeluarkan dana Rp. 239.286,- perbulan,(Rp. 2.871.132,-per tahun) jumlah itu setara dengan dua kali biaya untuk kesehatan dan setengah dari biaya untuk pendidikan. Responden wanita yang hobi dengan fashion, menghabiskan Rp. 174.848,-tiga kali lebih besar dari uang saku anak, atau setengah dari biaya pendidikan. Menariknya, saat diwawancarai mengenai pengeluaran diatas, mayoritas responden mengakui adanya pengaruh krisis keuangan global terhadap kondisi keuangan keluarga mereka. Nah lo, jika saat krisis saja komposisi pengeluaran untuk kebutuhan non-primer masih sangat besar, bagaimana jika mereka tidak terpengaruh krisis??- ga salah kan, banyak perusahaan multinasional yang memanfaatkan situasi ini, menjadikan konsumen Indonesia sasaran empuk produk-produk mereka, mulai ponsel, fashion, motor, hingga tempat-tempat hangout bernuansa franchise. Karena kondisinya, konsumen juga gampang gelap mata. Tak ada uang, kartu kredit pun jadi. Tinjauan psikologis – Mindset plus Stimulus Ade Iva Wicaksono, dosen UPH, Tangerang, melihat masalah “boros untuk hal-hal yang tak penting” berhubungan dengan mindset kebanyakan orang Indonesia. Jika sudah begitu, siapa pun mudah terjebak budaya konsumtif. Dorongan dari dalam jadi lebih kencang karena dipacu stimulus yang ditawarkan lingkungan. Misal, iklan-iklan di semua media yang membius pemirsanya dengan tawaran menggiurkan, setiap hari. Di kota-kota besar, stimulasi itu masih ditambah banyaknya mal-mal yang jaraknya amat dekat satu sama lain, persaingan antar mal juga ketat, perang diskon dan sejenisnya. Trik itu untuk terus menggoda dan “memaksa” orang untuk belanja. Stimulus lain yaitu kartu kredit dimana bank-bank sekarang murah hati memperingan syarat untuk mendapat kartu kredit dengan memperingan persentase cicilan. Akibatnya, pemakai kartu kredit kini bukan hanya kalangan atas, tapi juga menengah ke bawah yang ingin mengejar kemakmuran semu. Menilik di Jepang, konsumen disana punya kesadaran tinggi. Mereka tak gampang belanja. Pemerintah bahkan harus mengiming-imingi rakyatnya biar lebih konsumtif, tak hanya nyimpan uang di bawah bantal. Namun sebaliknya, jika rakyat terlalu konsumtif seperti di Indonesia, pemerintah justru harus membatasi stimulus. Misal, jarak antar mal dibuat sangat berjauhan, syarat mendapat kartu kredit diperberat, cicilannya dinaikkan dari 10% jadi 50%. K-lo stimulusnya dikurangi, orang akan berpikir 1000 kali untuk bersikap konsumtif.

NB:

Ø Tiap tanggal 29 November diperingati sebagai Buy Nothing Day, menyadari bahaya hidup konsumtif. Konsumen yang gelap mata akan melanggengkan kemiskinan, melakukan pemborosan dan tak produktif.

Ø World Watch menyatakan tiap keluarga di dunia saat ini mengonsumsi 4 kali lebih banyak produk dan jasa dibandingkan 40 tahun lalu. Di Negara Barat, mobil pribadi lebih banyak daripada orang yang punya SIM. (di Indonesia kan juga begitu, motor memenuhi jalan oleh pengendara tak ber-SIM).

Ø Meningkatnya pola konsumsi membuat kelaparan meluas. Karena Negara-negara barat melempar barang ke negara berkembang, menyebabkan sistem ekonomi di banyak negara berkembang tidak berjalan. Sudah miskin, masih harus menyetor uang pula ke negara maju, dengan membeli barang yang sebenarnya tidak/belum perlu dibeli. Kataku “Oh, Indonesiaku yang masih semrawut. Ini masalah mental saudara-saudaraku, jika kita tak sadar dengan hal-hal kecil seperti ini, mau jadi apa anak cucu kita nanti?- maka pergerakan harus terus ada, ruang-ruang diskusi tumbuh disana-sini untuk memberi pencerahan positif. Keep On to have a Fresh Mind.”

By: Muhammad Sulhi

DIKUTIP KEMALI OLEH ANDRA

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: